Perjuangan Zainal Abidin Syah untuk Irian Barat dalam NKRI

by -22 Views

Pada perayaan Hari Pahlawan 2025, Presiden RI Prabowo Subianto memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh di Istana Negara, Jakarta. Penghargaan ini didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025. Salah satu penerima gelar tersebut, almarhum Sultan Zainal Abidin Syah dari Maluku Utara, diakui dalam Bidang Perjuangan Politik dan Diplomasi. Zainal Abidin Syah berperan penting dalam mempertahankan wilayah Indonesia Timur, khususnya Papua Barat, sebagai bagian dari NKRI. Lahir di Soa-Sio, Tidore, Maluku Utara pada 1912, ia dikenal sebagai “Penjaga Timur Indonesia.”

Zainal Abidin Syah memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, menempuh pendidikan di berbagai sekolah Belanda untuk pribumi. Sebelum Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, ia telah mengemban berbagai posisi di daerah seperti Ternate, Manokwari, dan Sorong. Ia kembali menunjukkan kesetiaannya terhadap Indonesia saat menjadi Sultan Tidore pada tahun 1947 dan menegaskan bahwa Irian Barat adalah bagian dari Kesultanan Tidore.

Dengan keyakinan yang teguh, Zainal Abidin Syah menolak menyerahkan Irian Barat kepada Belanda saat Konferensi Meja Bundar tahun 1949. Berkat upayanya, Provinsi Perjuangan Irian Barat didirikan pada 17 Agustus 1956. Ia kemudian menduduki jabatan sebagai Gubernur Sementara Provinsi Perjuangan Irian Barat dan kemudian Gubernur Tetap Provinsi Irian Barat hingga tahun 1961.

Namanya diabadikan sebagai salah satu tokoh yang berperan besar dalam memperjuangkan kedaulatan Indonesia Timur. Pada 4 Juli 1967, Zainal Abidin Syah wafat dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha Ambon. Karena jasanya, jalan utama di Soa-Sio, yaitu Jalan Sultan Zainal Abidin Syah, diambil dari namanya. Semangat dan perjuangan Zainal Abidin Syah akan terus dikenang sebagai bagian dari sejarah bangsa yang harus dijunjung tinggi.

Source link