Banyak orang mungkin tidak terlalu mempertimbangkan posisi tubuh saat buang air besar (BAB). Namun, cara kita duduk atau jongkok di toilet sebenarnya dapat mempengaruhi kesehatan pencernaan secara keseluruhan. Perdebatan tentang apakah posisi jongkok lebih baik daripada duduk sering muncul, terutama karena penelitian-penelitian baru yang menyoroti hubungan antara postur tubuh dan kelancaran BAB.
Dalam hal toilet duduk, meskipun terlihat lebih modern dan nyaman, posisinya kadang dinilai kurang optimal untuk kesehatan pencernaan. Toilet duduk cenderung membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar saat buang air besar, yang dapat meningkatkan risiko wasir dan sembelit. Selain itu, penggunaan toilet duduk juga dapat meningkatkan risiko paparan kuman penyebab penyakit karena kontak langsung dengan permukaan dudukan kloset yang rentan terhadap pertumbuhan bakteri dan virus.
Di sisi lain, meskipun toilet jongkok dianggap ketinggalan zaman dan kurang nyaman bagi sebagian orang, posisi ini memiliki kelebihan untuk kesehatan pencernaan. Penelitian menunjukkan bahwa buang air besar dalam posisi jongkok dapat membantu proses pengeluaran menjadi lebih lancar karena postur tubuh secara alami mendukung mekanisme BAB. Sebaliknya, posisi duduk cenderung membuat saluran pembuangan terkunci, yang dapat menghambat kelancaran buang air besar.
Secara keseluruhan, posisi jongkok dianggap lebih baik untuk kesehatan pencernaan karena membuat tubuh bekerja secara alami, jalur keluarnya kotoran terbuka, dan rektum lebih rileks. Namun, untuk keamanan dan kenyamanan, toilet duduk mungkin lebih cocok bagi lansia, ibu hamil, atau orang dengan gangguan mobilitas. Namun, orang yang menggunakan toilet duduk dapat menggunakan footstool kecil atau bangku jinjing untuk mengangkat kaki agar posisinya mendekati jongkok, yang juga dapat membantu proses BAB menjadi lebih mudah.





