Vulkanikitas Gunung Ili Lewotolok semakin meluas dengan abu letusan yang kini mempengaruhi 27 desa di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dampak letusan ini meningkat secara signifikan dari sebelumnya hanya terjadi di 7 desa. Desa-desa yang terdampak meliputi Jontona, Lamaau, Baolaliduli, Aulesa, Lamawolo, dan beberapa lainnya. Selain itu, desa Kalikur, Normal, Leudanung, dan lainnya juga terkena dampak letusan ini.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lembata, Andris Korban, mengungkapkan bahwa abu vulkanik bahkan telah mencapai wilayah Kedang, yang sebelumnya hanya terjadi di Ile Ape dan Ile Ape Timur. Meskipun aktivitas belajar mengajar di sekolah terdampak, pemerintah belum memberlakukan libur karena belum terjadi peningkatan signifikan dalam skala erupsi.
Warga juga dihadapkan pada masalah sumber air bersih yang tercemar akibat hujan abu, serta lahan pertanian yang rusak akibat tertutupi abu vulkanik. Berbagai upaya sedang dilakukan untuk mendistribusikan air minum bersih kepada masyarakat yang terdampak. Stok masker yang terbatas juga menjadi perhatian, dengan sebagian besar masyarakat menggunakan kain sebagai pelindung diri.
Gunung Ili Lewotolok sebelumnya telah dinaikkan status aktivitas vulkaniknya dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) karena peningkatan aktivitas sejak awal Januari 2026. Peningkatan status ini dilakukan karena terjadi peningkatan jumlah kejadian erupsi yang signifikan. Jumlah kejadian erupsi yang meningkat dari hari ke hari menjadi alasan utama di balik langkah tersebut.





