Agus Wahid, seorang analis politik, memberikan pandangannya mengenai dinamika politik nasional setelah pemerintahan Prabowo-Gibran berlangsung selama setahun. Menurut Agus, kondisi Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan serius dalam hal sosial, ekonomi, dan hukum. Di tengah kondisi tersebut, terdapat manuver politik yang disinyalir bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan keluarga Presiden ke-7 RI, Jokowi, melalui pembentukan entitas politik baru.
Agus menggambarkan bahwa Indonesia masih berada dalam krisis multidimensi yang belum terselesaikan. Meskipun begitu, terdapat tanda-tanda bahwa kontestasi politik nasional ingin dimajukan lebih cepat dari jadwal yang seharusnya. Gerakan politik pun mulai muncul dengan lebih terbuka dan agresif, seperti yang terlihat dari perubahan logo Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan klaim basis partai di Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan.
Selain itu, ambisi PSI tampaknya didorong oleh peran langsung Jokowi, yang ingin membesarkan partai tersebut dengan cara yang sangat aktif. Namun, respon dari warganet terhadap upaya tersebut cenderung sinis, terutama melihat kondisi fisik Jokowi yang semakin menurun. Agus juga menyoroti ambisi politik dinasti dari keluarga Jokowi, yang menimbulkan spekulasi apakah tujuannya adalah untuk mengantarkan Gibran menjadi Presiden RI ke sembilan dan menjadikan adiknya sebagai penguasa baru di parlemen.





