Pakar Hukum Tata Negara Feri Amsari menarik perhatian dengan pernyataannya yang menuduh Presiden Prabowo Subianto terkait swasembada pangan. Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Umum (Waketum) Pimpinan Pusat (PP) GP Ansor, H Muh Mabrur L Banuna menganggap narasi Feri cenderung menyesatkan dan minim data, tanpa landasan teknis. Mabrur juga menyebut cara penyebaran informasi seperti ini mirip dengan tindakan mafia pangan, yang menciptakan keraguan dan mempengaruhi kepercayaan masyarakat.
Mabrur menegaskan bahwa kritik memang sah namun harus didasari oleh data, fakta, dan kompetensi yang kuat. Dia juga menyoroti bahwa produksi beras telah meningkat, stok melimpah, dan penindakan terhadap praktik tidak benar semakin intensif. Dengan demikian, tuduhan tentang kegagalan swasembada pangan dianggap tidak tepat.
Lebih lanjut, Mabrur menunjukkan bahwa data resmi menunjukkan peningkatan produksi beras nasional. Bahkan, lembaga internasional seperti Food and Agriculture Organization dan United States Department of Agriculture menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia. Oleh karena itu, upaya terus meremehkan capaian pangan Indonesia bisa membuka ruang bagi kepentingan lama, ketergantungan impor, dan distorsi pasar. Itulah sebabnya, penting untuk menilai informasi dengan cermat dan tidak terjebak dalam narasi negatif yang tidak didukung oleh fakta.





