AIHII Soroti Pentingnya Stabilitas Nasional di Tengah Konflik Dunia

by -80 Views

Di tengah maraknya perbincangan soal kemungkinan pecahnya perang dunia, kegundahan publik terus bergulir di berbagai kalangan, terutama di jagat maya dan pertemuan santai. Isu ini turut menjadi latar belakang terselenggaranya IR Youth Talks#1 yang diadakan oleh Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek, bertempat di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP Universitas Indonesia pada 21 April 2026. Diskusi ini mengangkat pembahasan relevan mengenai sikap dan kesiapan Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik global.

Pembukaan diskusi dilakukan oleh Anggy Pasaribu, seorang jurnalis dan pendiri “Story of Anggy” yang juga alumnus Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan. Ia mengajak peserta merenung tentang dasar kekhawatiran banyak orang terhadap ancaman perang dunia. Daripada memburu jawaban mutlak, Anggy menekankan pentingnya melihat masalah global dengan kepala dingin dan pertimbangan yang matang.

Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso, Direktur Kajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI, hadir sebagai pembicara dan mengimbau generasi muda untuk tidak mudah larut dalam isu spekulatif soal perang dunia. Menurut Aloysius, jauh lebih penting bagi Indonesia untuk memperkuat kesiapan nasional guna menghadapi aneka krisis global yang dapat terjadi tanpa diduga.

Ia menyoroti bahwa prediksi semata tidak cukup. Indonesia perlu aktif juga dalam membangun daya tangkal dan adaptasi. Lemhannas, kata Aloysius, sudah melakukan berbagai langkah mulai dari pemetaan potensi ancaman, skenario kemungkinan krisis, hingga menakar kerentanan nasional yang tengah dihadapi negeri ini.

Dalam pemaparannya, Aloysius mengungkap beberapa titik rawan yang patut menjadi perhatian, seperti tingginya ketergantungan Indonesia pada impor pangan dan energi, serta posisi geografis Indonesia yang strategis di tengah persaingan negara-negara besar di kawasan Indo-Pasifik. Setiap dinamika global, lanjutnya, bisa berimbas langsung ke tanah air, baik itu pada sektor ekonomi, stabilitas harga energi, maupun keamanan nasional.

Di sisi lain, Aloysius menegaskan peran sentral Pancasila dalam membentengi bangsa dari terpaan ancaman global. Ia menyampaikan bahwa kekuatan negara tak semata diukur dari ekonomi atau militer, melainkan juga dari daya tahan ideologis yang mampu mempersatukan rakyat di bawah tekanan internasional.

Menurut Aloysius, pondasi ideologi yang kokoh akan memudahkan bangsa untuk tetap tegar dengan situasi global yang berubah-ubah. Ucapan ini menjadi pesan agar nilai Pancasila terus dihayati oleh generasi penerus bangsa.

Broto Wardoyo, Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional UI, menawarkan pandangan lain dengan mengajak peserta menganalisis dinamika global secara konseptual. Ia meminta agar anak muda tidak hanya reaktif pada isu-isu konflik dunia, karena fenomena saat ini lebih tepat dipahami sebagai pergulatan sistem internasional yang sedang mengalami perubahan besar.

Broto menyoroti bahwa krisis yang terjadi saat ini sebenarnya merupakan rangkaian persoalan yang saling berkaitan. Mulai dari ketegangan geopolitik, masalah energi, hingga tekanan ekonomi global, semua membentuk pola yang harus diamati secara cermat alih-alih sekadar dikhawatirkan.

Lebih jauh, ia menyinggung peran kebijakan internal sejumlah negara, seperti Amerika Serikat di bawah Donald Trump, yang turut memperkuat instabilitas global melalui kebijakan-kebijakan kontroversial. Menurut Broto, dampak-kebijakan tersebut menambah tingkat ketidakpastian dalam sistem internasional saat ini.

Sebagai solusi strategis, Broto memperkenalkan konsep resilience-based hedging, yakni strategi diplomasi yang mengedepankan kelenturan dalam relasi luar negeri, sembari terus memperkuat kapasitas nasional dari dalam. Skema ini dinilai penting agar Indonesia tetap tangguh menghadapi rivalitas baru sekaligus mampu menyerap dampak dari beragam krisis yang bisa saja muncul di masa mendatang.

IR Youth Talks#1 mempertemukan berbagai pemangku kepentingan—pelajar, dosen, dan kebijakan—dalam satu forum terbuka. Enam perguruan tinggi seperti UI, Universitas Pertamina, Universitas Bina Nusantara, Universitas Prof. Dr. Moestopo, Universitas Jayabaya, dan Universitas Budi Luhur bahu-membahu mendukung acara ini.

Jeanne Francoise, dosen Hubungan Internasional President University, menegaskan bahwa forum ini berperan penting dalam menjembatani anak muda dengan perkembangan ilmu Hubungan Internasional lintas kampus. Hal itu juga membuktikan, perbincangan tentang dunia internasional tak hanya relevan bagi akademisi tapi juga penting dipahami generasi muda yang akan menjadi pelaku langsung di masa depan.

Di penghujung acara, Anggy Pasaribu mengingatkan perlunya menjaga mutu dan etika ruang dialog publik. Ia menegaskan kritik tetap penting, namun harus dikemas secara santun dan disampaikan di ruang yang benar.

Anggy menambahkan, partisipasi anak muda dalam isu kebangsaan tak selalu harus ditampilkan lewat sikap keras. Pemahaman yang mendalam dan ide-ide segar, jika dibawakan secara konstruktif, sama pentingnya dalam menyikapi keadaan bangsa.

Akhir kata, Anggy menutup diskusi dengan refleksi: di tengah ketidakpastian global yang nyata, kesiapan dan pemahaman menjadi modal utama Indonesia, jauh lebih berarti daripada sekedar rasa cemas atas ancaman perang dunia yang ramai di permukaan. Generasi muda diajak untuk tetap optimis, meningkatkan literasi global, dan bersiap menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar menjadi pemirsa ketakutan global yang berulang.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko