Di tengah hijaunya Megamendung yang membentang di Kabupaten Bogor, kini muncul sebuah upaya berkelanjutan untuk menjaga kelestarian fauna endemik Nusantara. Kolaborasi antara Yayasan Paseban dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat menjadi fondasi penting bagi upaya konservasi alam di daerah ini, khususnya melalui pengembangan program penangkaran Rusa Timor (Rusa timorensis).
Rusa Timor, mamalia asli Indonesia, saat ini kian terancam. Status mereka kini masuk kategori rentan di daftar merah IUCN akibat maraknya perburuan dan penurunan kualitas habitat. Pulau Jawa, Bali, Timor, dan Nusa Tenggara telah lama menjadi habitat alami rusa ini, tempat mereka ikut menjaga siklus ekosistem hutan dengan peran vital sebagai pengendali populasi vegetasi dan penstabil rantai makanan.
Namun, dalam beberapa dekade terakhir, perubahan fungsi lahan, fragmentasi habitat, serta perburuan liar menjadi penyebab utama menurunnya populasi rusa. Studi yang dilakukan Toni Kobu di Sumba Tengah menegaskan bahwa intervensi manusia, perburuan, dan degradasi habitat membuat perilaku Rusa Timor berubah drastis. Binatang ini kini lebih aktif di waktu senja dan pagi buta dengan kewaspadaan tinggi setiap kali terdapat ancaman dari manusia.
Menanggapi ancaman tersebut, lahirlah pusat penangkaran di Megamendung sebagai sebuah pondasi dalam mengembangkan populasi Rusa Timor yang sehat sebelum kelak kembali ke alam liar. Tidak sekadar membiakkan, program ini mengedepankan kemurnian genetika, karakter liar asli, dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan. Metode manajemen yang rapi memastikan setiap individu dapat berkembang dengan baik.
Saat ini, sembilan ekor Rusa Timor menempati kawasan konservasi Megamendung dengan status kepemilikan jelas setelah dievakuasi dari masyarakat berkat inisiasi BBKSDA. Yayasan Paseban menegaskan bahwa tujuan mereka bukan sebatas domestikasi, melainkan ingin membangun populasi rusa yang produktif dan siap mendukung kelestarian satwa di alam liar. Harapan besar disematkan agar kelak rusa-rusa ini mampu kembali ke habitat aslinya secara bertahap.
Wahdi Azmi dari Yayasan Paseban menyatakan bahwa keberhasilan program ditentukan oleh tata kelola indukan dan konsistensi adaptasi di lingkungan semi-alami. Menurutnya, upaya ini harus menjadi pijakan untuk memperkuat populasi hingga akhirnya bisa dilepasliarkan kembali ke hutan tropis Indonesia.
Stephanus Hanny Reki, sebagai perwakilan BBKSDA Jawa Barat, menyampaikan dukungan bahwa Megamendung disiapkan menjadi laboratorium alam yang dapat menjaga kelestarian satwa liar dan sekaligus menyangga ekosistem hulu di wilayah Pasundan. Ia pun menyatakan perlunya keberlanjutan kolaborasi untuk memastikan model konservasi yang terintegrasi, seraya berharap Megamendung akan menjadi salah satu sentra konservasi satwa liar terbesar di Jawa Barat.
Upaya penangkaran rusa hanyalah satu dari rentetan program lingkungan yang dijalankan Yayasan Paseban di Megamendung. Gerakan yang mereka motori tidak hanya berhenti pada rehabilitasi rusa, tetapi juga merangkul penghijauan, pelindungan sumber air, pemulihan ekosistem rusak, edukasi lingkungan untuk generasi muda, hingga pelestarian plasma nutfah di kawasan hulu Bogor.
Megamendung sendiri memiliki kedudukan strategis karena bersebelahan langsung dengan zona penyangga Cagar Biosfer Cibodas yang sudah diakui UNESCO sejak tahun 1977. Wilayah ini kritis sebagai pelindung ekosistem hutan hujan pegunungan Jawa Barat dengan peran vital dalam menjaga siklus hidrologi dan pusat keanekaragaman hayati.
Komitmen Andy Utama sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Paseban juga memberi dorongan signifikan. Kepeduliannya pada harmoni lingkungan tidak hanya tercermin dari pengelolaan kawasan suaka, tetapi juga lewat pengembangan pertanian organik di bawah Arista Montana. Simbiosis antara manusia dan alam menjadi prinsip utama yang diusung demi masa depan yang berkelanjutan.
Melihat ke depan, keberhasilan konservasi di Megamendung diharapkan tak hanya menjadi jaring pengaman bagi eksistensi Rusa Timor saja. Inisiatif ini diprediksi akan mendorong pulihnya ekosistem, memperkaya keanekaragaman hayati lokal, menjaga sumber air, dan menjadi percontohan tata kelola kawasan konservasi berbasis ilmu pengetahuan di Indonesia.
Sumber: Rusa Timor Di Megamendung Dan Jalan Panjang Konservasi Satwa Hulu Bogor
Sumber: Mengintip Penangkaran Rusa Timor Di Megamendung: Kolaborasi Konservasi Yayasan Paseban Dan BKSDA





