Militer dalam Tugas Non-Pertahanan: Subsidiari atau Non-Subsidiari?

by -191 Views

Pembahasan mengenai profesionalisme militer seringkali diasosiasikan dengan keahlian dalam pengelolaan kekerasan dan ketundukan terhadap otoritas sipil, namun prakteknya jauh lebih beragam. Perubahan lanskap ancaman di era pasca-Perang Dingin mendorong militer, termasuk negara-negara anggota NATO, mengambil beragam fungsi dan tugas baru yang tak selalu berkaitan langsung dengan peperangan antarnegara. Pada saat yang sama, profesionalisme militer justru diuji dalam bagaimana militer menavigasi berbagai peran tambahan tersebut sembari tetap menjaga prinsip kontrol sipil dan keterbukaan terhadap akuntabilitas demokratis.

Contoh konkret dapat dilihat dari kegiatan operasional NATO dalam dua dekade terakhir. NATO, yang tadinya fokus pada pertahanan kolektif dan deterrence terhadap ancaman eksternal, telah memperluas cakupan misinya secara signifikan. Selain tetap menjalankan peran defensif—seperti waspada terhadap agresi Rusia di Eropa Timur—militer negara-negara NATO aktif dalam banyak operasi kemanusiaan, pelatihan keamanan, penanggulangan krisis migrasi, hingga dukungan untuk Olimpiade Athena 2004 melalui penyediaan intelijen hingga keamanan biologis dan radiologis. Ini menandakan bahwa batas fungsi militer tidaklah tetap, dan dalam praktik demokrasi, profesi militer dihadapkan pada tantangan perluasan fungsi yang dinamis.

Namun, perubahan ini bukannya tanpa perdebatan. Dalam literatur klasik, Huntington (1957) menekankan perlunya profesionalisme militer dibatasi pada keahlian mengelola kekerasan untuk mempertahankan negara, dengan ruang lingkup kerja yang jelas dan terbatas agar tidak terlibat dalam politik domestik. Model seperti ini dianggap ideal dalam menjaga otonomi profesional militer serta memastikan adanya kontrol sipil yang efektif. Tapi, pengalaman di wilayah dunia lain menunjukkan nuansa berbeda. Penelitian Stepan (1973) di Amerika Latin mengamati bahwa profesionalisme bisa juga tumbuh di tengah meningkatnya keterlibatan militer dalam urusan domestik seperti pembangunan nasional ataupun kontra-subversi. Alih-alih hanya menjadi penjaga perbatasan, militer seringkali diminta aktif dalam isu-isu sosial, ekonomi, dan bahkan administrasi negara.

Eropa menawarkan contoh unik. Meski militer diberi beragam tugas baru—mulai dari peacekeeping, dukungan kemanusiaan, hingga pelatihan keamanan—semua diberikan dalam kerangka hukum demokratis dan pengawasan otoritas sipil. Otonomi militer tetap dibatasi, dan militer tidak otomatis meluaskan kewenangan politik ketika mengerjakan tugas di luar fungsi tradisionalnya.

Analisis Schnabel dan Hristov (2010) membantu mengklasifikasikan peran militer dalam beragam skenario. Tugas yang bersifat subsidiari biasanya membuat militer hanya membantu lembaga sipil tanpa mengambil alih kewenangan utama—contohnya dalam tugas pengawasan maritim atau bantuan bencana. Dengan demikian, bukan saja substansi tugas, tetapi juga mandat, pembagian tanggung jawab, komando, serta mekanisme akuntabilitas harus diperjelas demi menjaga profesionalisme.

Meski demikian, semakin banyaknya fungsi yang diamanatkan ke militer memunculkan risiko tersendiri. Apabila pelibatan terlalu luas tanpa pembatasan jelas, institusi sipil bisa melemah, terjadi tumpang tindih tanggung jawab, dan fokus militer pada kemampuan inti dapat terganggu. Risiko ini semakin besar ketika pengawasan sipil kurang efektif atau terjadi ketergantungan yang berkepanjangan terhadap militer dalam penyelesaian krisis.

Oleh karena itu, memahami profesionalisme militer bukan semata-mata soal menyempitkan peran ke fungsi peperangan atau memperluasnya ke fungsi sipil. Yang lebih penting ialah bagaimana militer menjaga subordinasi pada otoritas sipil, memastikan mandat dan akuntabilitas tetap jelas, serta tidak melampaui batas lembaga yang telah ditentukan konstitusi dan hukum. Kompetensi inti pertahanan eksternal memang tetap menjadi ciri utama militer, tetapi fleksibilitas untuk berpartisipasi dalam tugas lain harus selalu berada dalam koridor tata kelola demokratis.

Pengalaman NATO dapat menjadi pelajaran penting: profesionalisme tidak diukur dari sedikit atau banyaknya tugas militer, melainkan dari kemampuan menjalankan beragam peran dalam kerangka subordinasi terhadap sipil, transparansi, serta akuntabilitas. Dengan demikian, diskusi tentang profesionalisme militer harus terus terbuka pada perubahan fungsi, selama perubahan itu tetap dijalankan dalam batas-batas yang menjamin militer tidak berubah menjadi aktor politik independen.

Sumber: Militer Profesional Tak Hanya Untuk Perang, Broto Wardoyo Soroti Batas Peran
Sumber: Militer Profesional Untuk Apa?